Join and earn money by advertising in Kumpulblogger.com

geplak

Selasa, 04 Mei 2010

geplak

Geplak, tak pelak lagi merupakan salah satu makanan khas Jogja. Mulanya dikenal sebagai jajanan khas Bantul, geplak kini juga menjadi salah satu trade mark Jogja.

Sejarah geplak, kata salah seorang pembuat dan sekaligus juragan geplak Bantul, Fauzan Jafar, tidak terlepas dari keberadaan Bantul pada masa lalu sebagai penghasil gula dan buah kelapa. Pada masa kolonial Belanda, demikian seperti ditulis pemilik blog emshol.multiply.com, Bantul terkenal sebagai penghasil gula tebu. Tidak tanggung-tanggung, tercatat ada enam buah pabrik gula pada masa itu. Tanah-tanah pertanian ditanami tebu.

Selain penghasil gula tebu, Bantul, yang letak geografisnya di pesisir selatan, juga penghasil buah kelapa, dan tentu saja sekaligus penghasil gula kelapa. Produksi kelapa dan gula yang melimpah inilah yang melahirkan geplak. Makanan ini bisa membuat gula dan kelapa punya nilai tambah.

Bahan utama geplak adalah kelapa. Kelapa ini diparut lalu dicampur dengan gula. Gula yang dipakai bisa gula kelapa, bisa gula tebu. Campuran ini lalu dibentuk menjadi bola-bola yang kemudian disangrai. Hanya begitu prosesnya. Sederhana sekali.

Jika gula tebu yang dipakai, hasil akhirnya berupa geplak berwarna putih kelabu. Jika gula kelapa yang dipakai, geplaknya berwarna cokelat. Rasanya tentu saja campuran antara gurih kelapa dan manis gula yang sangat legit. Yah, namanya juga gula. Begitu manisnya sampai bisa membuat kita haus setelah makan satu biji. Bahkan, mungkin saja kita tidak berselera menghabiskan satu biji karena saking manisnya. Setelah makan geplak, makanan atau minuman lain yang rasanya manis menjadi tawar karena kalah oleh rasa manis geplak. Teh manis pun akan terasa seperti teh tawar.

Pada masa lalu, geplak juga kadang berfungsi sebagai makanan alternatif pengganti. Pada saat paceklik, warga biasa mengonsumsi geplak sebagai makanan pokok. Kini, geplak lebih dikenal sebagai makanan kecil sekaligus oleh-oleh khas Bantul dan Jogja.

Seiring dengan permintaan konsumen, dibuat dengan berbagai variasi rasa. Awalnya, hanya tersedia geplak gula kelapa dan geplak gula putih tanpa tambahan rasa. Kini tersedia juga geplak rasa vanili, cokelat, stroberi, dan durian.

Gula yang dipakai pun bukan lagi gula lokal Madukismo, satu-satunya pabrik gula yang masih tersisa di Bantul. Yang dipakai hanya gula tebu yang warnanya putih bersih. Pasalnya, kalau gula tebunya berwarna kelabu, warna geplaknya pun ikut menjadi kelabu.


sumber :http://jogjanews.com/2009/05/25/antara-geplak-bantul-dan-betawi/

0 komentar:

Follow Me

Blog Archive

Online

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Directory

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku Text Back Links Exchange Free Automatic Link Free Automatic Backlink http://Link-exchange.comxa.com Powered by Mysiterank

  © Web Design By Septiyans   © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008   ©The Javanese   ©Doea Enam

Back to TOP