Join and earn money by advertising in Kumpulblogger.com

Microsoft, Pesaing, dan Kepercayaan Penggunanya

Senin, 24 Mei 2010

microsoft monopolyArtikel ini merupakan hasil survey dari majalah bulanan Chip yang sengaja saya posting ulang. Mungkin ini bisa menjadi informasi menarik bagi pembaca semua walaupun surveinya sudah 2008 lalu.

Siapa yang memiliki Windows? Microsoft atau pengguna?

Bila Anda membeli produk-produk Microsoft, bukan berarti Anda membeli software tersebut. Anda hanya berhak menggunakannya. Politik lisensi seperti ini diadopsi Microsoft dari industri musik dan diterapkan pada pasar software. Akibatnya, muncul kesalahpahaman dan kecurigaan.

Microsoft melakukan spionase: Tuduhan ini menempati posisi teratas dari survei yang disebar. Survei ini juga menunjukkan besarnya kepercayaan yang luntur terhadap dominasi Microsoft. Pengguna mengetahui Windows selalu mengirim data ke Microsoft. Hal ini tidak dibantah oleh Microsoft. Memang tidak ada data pribadi yang diambil oleh Microsoft. Data yang dikirim biasanya hanya untuk System Maintenance dan Error Reporting. Selain itu, data tetap anonim. Saat pengguna men-download sebuah driver baru melalui Windows Update, Windows hanya mengirim sebuah Hardware ID.

Namun, kondisinya tidak selalu demikian. Di Media Player, Microsoft menyembunyikan sederetan feature yang bertugas untuk menghubungkannya ke Internet. Media Player sampai versi terbarunya juga mengirim data ke Internet tanpa permisi, sampai pengguna menonaktifkannya. Data yang dikirim seputar penggunaan Media Player yang resminya hanya digunakan untuk meningkatkan kinerja software.

Microsoft harus merevisi cara kerja Media Player mereka karena player ini akan membuat database dari semua DVD yang telah diputar kemudian mengirimnya ke Microsoft. Memang, proses ini dapat dinonaktifkan melalui menu "Options | Data Privacy". Pertanyaannya, mengapa tidak dinonaktifkan secara default?

Terkait dengan keamanan sistem, Microsoft tidak membiarkan pengguna sendirian walaupun dalam arti berbeda. Windows Defender tidak hanya mendeteksi spyware dan menghapusnya. Tools ini juga mengirim report hasil kerja Defender ke Microsoft berikut dengan signature spyware. Sepertinya tidak bermasalah, tetapi jarang pengguna Vista yang mengetahui bahwa secara otomatis ia berpartisipasi dengan program Microsoft SpyNet. Bila fungsi ini ingin dinonaktifkan, prosedurnya harus dilakukan secara manual melalui menu "Start | Control Panel | Windows Defender". Pada Windows Defender, klik menu "Tools | Microsoft SpyNet" dan kemudian pilih "Do not join Microsoft SpyNet now".

Masalah dengan spionase adalah Microsoft menganggap bahwa merekalah yang harus lebih tahu mana yang terbaik untuk sistem daripada penggunanya sendiri. Namun, seharusnya pengguna diinformasikan terlebih dahulu. Lantaran tidak menawarkan solusi, banyak pengguna yang menggunakan tools seperti xpy (http://xpy.whyeye.org/) untuk menghentikan komunikasi dengan Microsoft.

Aktivasi: Menurut sastrawan Orwell, setiap orang bersalah apabila tidak dapat membuktikan ketidaksalahannya. Ini juga menimpa pengguna Microsoft. Pengguna harus membuktikan melalui aktivasi produk bahwa ia telah membeli secara legal.

Aktivasi produk akan mengirim informasi mengenai hardware yang digunakan oleh pengguna ke Microsoft. Apalagi, Windows XP atau Vista hanya dapat di-install pada satu komputer saja. Komputer memang dapat di-upgrade, tetapi Microsoft hanya mengizinkan penggantian dari tiga komponen hardware yang penting saja.

Sebuah fungsi untuk menonaktifkan sistem operasi ditawarkan mulai di Windows 7. Jadi, sistem operasi dapat di-install kembali pada sebuah PC baru. Namun, mengapa ide ini begitu terlambat? Sebenarnya, kebutuhan ini sudah muncul pada Windows XP karena tertundanya Vista membuat Windows XP menjadi standar yang digunakan pada PC sejak 6 tahun lalu. Selain itu, jarang ada pengguna yang masih menggunakan hardware yang sama sejak dari tahun 2001.

Masalah dengan DRM: Kita harus berterima kasih kepada Microsoft yang memberikan konsep Digital Rights Management, (DRM). Sejak saat itu, setiap lagu yang dijual dilindungi oleh lisensi. Artinya, lagu yang dijual bukan untuk dimiliki, melainkan hanya diizinkan untuk diputar. Akibatnya, MP3 Player tidak dapat memutarnya karena MP3 tidak memiliki DRM.

Mulai 2004, Micosoft menyebut model DRM mereka dengan “PlaysForSure”. Hanya lagu-lagu dari MSN Music Store yang dapat diputar pada PC. Namun, lagu tersebut tidak untuk Microsoft Zune. Walaupun keduanya menggunakan PlaysForSure.

Namun, jika berganti ke komputer lain, dalam kondisi tertentu, Anda bisa dibuat naik pitam. Pasalnya, Microsoft membatasi lisensi DRM dengan cara yang ketat karena lagu-lagu hanya dapat diputar pada satu PC tertentu saja. Tak heran jika bermunculan cracker DRM seperti FreeMe2 dalam forum-forum underground.

Namun tampaknya, kritik dari pengguna mulai ditanggapi. Semakin banyak perusahaan label besar yang menawarkan musik tanpa proteksi secara online. Sebaliknya, Microsoft hanya menghentikan program PlaysForSure untuk masuk ke konsep yang lebih besar “Certified for Windows Vista”.

Microsoft vs pengguna: Mengapa Windows selalu bermasalah?

Blaster telah membuka mata semua orang. Worm ini hanya membutuhkan alamat IP dari sebuah PC untuk membobol Windows. Sejak itu, Microsoft setiap bulannya menawarkan security update. Dari jumlahnya dapat disimpulkan bahwa Windows begitu buggy. Pertanyaannya sekarang, apakah merilis sistem operasi baru seperti Vista dapat membangun kepercayaan tersebut?

Setiap Windows baru tidak stabil: Dalam survei CHIP, banyak pengguna yang mengkritik bahwa setiap versi Windows baru berjalan baik setelah muncul Service Pack 1. Ini bisa dilihat dari Vista yang baru berfungsi baik setelah SP1 (berisi 570 patch sebelumnya). Baru di SP1, Vista dapat meng-copy file secepat sistem operasi lain. Selain itu, Microsoft membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi masalah dual boot antara XP dan Vista. Pada awal 2008, Microsoft merilis sebuah panduan resmi pada website-nya untuk mencegah agar XP tidak menyebabkan system restore Vista menjadi tidak berguna.

Seperti yang sudah diketahui, Vista membutuhkan komputer dengan resource besar. Namun, Microsoft akhirnya menurunkan spesifikasi minimal untuk logo “Windows Vista Capable”. Alasannya agar partner hardware mereka dapat menggunakan sistem baru ini sebanyak mungkin pada notebook. “Kami menurunkan spesifikasi yang diperlukan agar Intel dapat memperoleh neraca kuartal yang baik,” jelas Microsoft Manager John Kalkman.

Masalah Keamanan IE: Microsoft memang memenangkan pertarungan browser dengan Netscape dan pengguna harus tetap menggunakan Internet Explorer 6 yang sangat buggy. Setelah pesaing serius seperti Firefox muncul, barulah Microsoft berusaha memperbaiki browser mereka. Walaupun demikian, IE7 masih tetap memiliki lubang keamanan: Tahun lalu perusahaan keamanan Secunia menemukan lebih dari 100 lubang di IE. Bandingkan dengan Firefox yang hanya memiliki 20 lubang keamanan, Opera bahkan hanya punya 10 lubang keamanan. Sebanyak 24 persen lubang keamanan IE7 masih belum teratasi.

Microsoft juga menawarkan ActiveX, sebuah interface untuk content web. Namun, plug-in IE ini tidak dilengkapi dengan proteksi keamanan yang baik. Walaupun menggunakan sebuah plugin ActiveX dari produsen yang terpercaya, masih saja terdapat lubang keamanan. Inilah yang terjadi pada plugin dari antivirus McAfee. Memang, ActiveX dapat dinonaktifkan dalam browser. Namun, sebagai akibatnya banyak software yang tidak berfungsi lagi yang dijalankan secara otomatis dalam browser.

Microsoft vs kompetitor: Membatasi, meniru, dan membeli

Windows, Office, ini belumlah cukup. Microsoft ingin terlibat di mana-mana. Terutama standar sendiri yang menghalangi kompetitor. Namun, di saat kompetitor mencapai keberhasilan, Microsoft segera mengikutinya dari belakang yang sering kali dengan tiruan kelas dua yang tidak memenuhi standar.

Standar yang tidak diinginkan siapa pun: Sebagai bagian dari sistem operasi, software Microsoft seperti IE atau Media Player dengan cepat menjadi populer. Pamor ini tidak berkaitan dengan kualitasnya. Bahkan, program ini hanya mendukung standar yang diciptakan oleh Microsoft sendiri, seperti Advanced Systems Format (ASF). Berdasarkan keputusan pengadilan, standar ini tetap hanya untuk program-program Microsoft. Sementara itu, pesaing Media Player juga boleh memutar format ASF. Namun, hal ini di luar kepentingan Microsoft. Format ini sebenarnya sudah usang.

Ketika Microsoft tidak dapat memaksakan standarnya, raksasa ini lalu mengubah standar yang sudah ada secara sepihak. Ini terjadi dengan standar HTML. Microsoft telah menciptakan tag tersendiri untuk menampilkan content website yang dinamis. Sejak saat itu, web designer dapat menggunakan kode yang berbeda untuk IE maupun untuk browser lain. Baru Internet Explorer 8 yang memenuhi standar HTML.

Cerita masih berlanjut: Bahasa pemprograman XML merupakan basis untuk semua format Office generasi baru. Di sini, Microsoft menggunakan standar yang disebut Office Open XML (OOXML) yang merupakan rival dari OpenDocument Format (ODF). ODF dikembangkan oleh perusahaan seperti IBM dan Sun System yang sudah lama distandarisasikan.

Sementara itu, OOXML sudah di tangan Komisi ISO. Namun, tidak semuanya berjalan lancar. Sekarang, Microsoft akan diperiksa apakah memberikan tekanan pada badan standarisasi tersebut dan bagaimana caranya. Ini tidak mengherankan semua pihak. Selama ini, Microsoft dapat menguasai pasar dengan Microsoft Office karena format file ini dikuasai sendiri oleh Microsoft.

Lebih banyak meniru: Yang datang terlambat, pasti tidak kebagian. Inilah yang juga menimpa Microsoft walaupun mereka tidak mempercayainya. Kenyataannya, selagi Apple dan Google mengembangkan ide baru dan merampas pasar, Microsoft hanya mengikuti dari belakang.

Hasilnya, Microsoft mengeluarkan sebuah audio player dengan DRM yang bernama Zune. Harapannya, player ini menjadi pesaing dari Apple iPod. Bahkan, music store yang didirikan juga meniru Apple. Microsoft juga masih belum berhasil melawan Google berikut layanannya dalam Web 2.0. Dari content-nya, memang Microsoft menawarkan lebih banyak. Windows Live mencakup lebih dari 40 layanan. Sementara itu, Live Search lebih terlihat hanya kloningan dari Google Search. Demikian juga dengan Virtual Earth yang mirip Google Earth bak anak kembar. Aksi terbaru juga dilancarkan terhadap Online-Office Google Apps. Microsoft menawarkan program Office Live dengan fasilitas standar secara gratis.

Bahkan, walaupun perusahaan ini berencana membeli Yahoo senilai 44 miliar dollar, Google tetap nomor satu di Internet. Jika digabung, market share Microsoft dan Yahoo saja tidak mencapai 20 persen.

Google Map Microsoft Map]
Google Maps (kanan) dan Bing Maps (kiri), nyaris tidak ada perbedaan dari segi tampilan

Jadi, tidak mengherankan apabila Microsoft masih mandek dalam Web 2.0. Alasannya, dibutuhkan pertukaran hal-hal yang berbau pribadi seperti menyimpan data atau mengolah dokumen di Internet. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila ada interaksi yang dalam dengan pengguna. Web 2.0 berbasis pada hubungan sosial, artinya berlandaskan kepercayaan. Masalahnya, siapa sih yang percaya dengan Microsoft?

Lebih Baik Membeli daripada Bikin Sendiri

Banyak produk Microsoft yang tidak dikembangkan sendiri. Filosofinya, bila tidak memiliki know-how yang memadai, lebih baik membeli.

MS-DOS: Sistem operasi pertama dari Microsoft ini dikembangkan oleh Tim Paterson pada tahun 1980 dengan nama QDOS. Pada bulan Juli 1981, Microsoft membeli hak atas sistem operasi ini dan menamakannya MS-DOS.

Internet Explorer: Microsoft mengambil alih lisensi browser NCSA Mosaic pada tahun 1994 dari Spyglass dengan mengorbankan satu persen dari pendapatannya. Deal yang buruk karena Microsoft membagikan IE yang berbasis Mosaic secara gratis. Mulai IE7, Microsoft tidak lagi menggunakan program Mosaic.

Direct3D: Interface ini merupakan jantung untuk 3-D graphic rendering pada Windows. Interface ini dikembangkan oleh perusahaan RenderMorphic dengan nama Reality Labs. Microsoft mengakusisi perusahaan ini pada tahun 1995 dan mengintegrasikan 3D-Engine pertama kali ke dalam DirectX 2.0.

Windows Defender: Dalam bidang keamanan, Microsoft sangat jauh di belakang. Tidak heran apabila perusahaan ini harus membeli sebuah tool anti-spionase. Pada tahun 2005, Anti-Spyware dari Giant diubah menjadi Windows Defender. Sumber

0 komentar:

Follow Me

Blog Archive

Online

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Directory

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku Text Back Links Exchange Free Automatic Link Free Automatic Backlink http://Link-exchange.comxa.com Powered by Mysiterank

  © Web Design By Septiyans   © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008   ©The Javanese   ©Doea Enam

Back to TOP