Join and earn money by advertising in Kumpulblogger.com

Seberapa Sakti Pancasila

Jumat, 01 Oktober 2010


Jakarta - Pada 1 Oktober 2010 Indonesia genap merayakan dan memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang ke-45. Penetapan tanggal tersebut karena pada saat itu Pancasila sebagai dasar negara telah berhasil diselamatkan dan terselamatkan setelah dilakukan percobaan penggulingan oleh komunis. 

Penyelamatan Pancasila telah mengisyaratkan adanya upaya pengamanan terhadap nilai-nilai dan cara pandang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam falsafah negara yang dicerminkan oleh peneguhan Pancasila sebagai dasar maka nilai dan cara pandang akan kehidupan beragama, kemanusiaan, persatuan, pemusyawaratan, dan keadilan sosial menjadi ruh perjuangan dalam memajukan Indonesia. 

Namun demikian bagaimana implementasi kesaktian Pancasila dalam realitas sosial kehidupan bangsa saat ini. Secara nilai Pancasila memang masih diyakini dan diakui keberadaannya. Akan tetapi dalam konteks hakikat atau makna yang terkandung di dalamnya semakin memudar bahkan cenderung menghilang. Padahal, bila kita berbicara mengenai kesaktian Pancasila maka kita akan kembali pada nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila pada Pancasila. 

Pada sila pertama yaitu sila yang berkenaan dengan aspek ketuhanan. Makna dari ketuhanan adalah keyakinan yang tinggi pada ajaran agama dan kepatuhan dalam mengimplementasikan nilai-nilai agama. Dengan demikian buah dari sila pertama ini adalah berupa kesanggupan dalam berperilaku secara jujur, santun, dan berbudi pekerti yang luhur. Sehingga, bila benar-benar diterapkan maka perilaku menyimpang seperti korupsi dan perilaku amoral lainnya akan terhindarkan

Selanjutnya pada sila kedua mengamanatkan bahwa Bangsa Indonesia haruslah menjadi bangsa yang mengedepankan aspek kemanusiaan. Kemanusiaan tercermin dari kesetaraan hak dan kewajiban serta berketapan untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Sila ini mengharapkan bahwa Bangsa Indonesia haruslah menjadi bangsa yang besar, terpandang, terhormat, serta diperhitungkan dalam pergaulan internasional dengan bertumpu pada potensi dalam negeri. Sehingga, bila secara konsisten sila ini dijalankan maka perselisihan antar bangsa yang bersifat budaya, perbatasan, dan ekonomi tidak perlu
terjadi. 

Pada sila ketiga Pancasila semangat persatuan menjadi titik tekan utama. Dalam konteks ini Pancasila mengharapkan agar bangsa ini dibangun atas dasar persatuan untuk mencapai tujuan bersama yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Keanekaragaman dan kemajemukan bangsa bukan sebagai halangan untuk membangun. Tetapi, sebaliknya menjadi modal dasar pembangunan. Dengan demikian bila sila ini benar-benar diterapkan maka sangat mustahil terjadi disintegrasi dan perselisihan antar suku dan agama. 

Selanjutnya pada sila keempat. Pancasila mengedepankan aspek pemusyawaratan untuk mufakat. Karenanya, Bangsa Indonesia sepatutnya meletakkan segala permasalahan dalam semangat kebersamaan dan musyawarah untuk mufakat. Disadari atau tidak bahwa segala permasalahan bangsa adalah tugas dan tanggung jawab semua elemen bangsa ini melalui lembaga perwakilan yang dilandasi semangat kebersamaan dan kekeluargaan. 

Dengan demikian bilamana sila ini tetap menjadi landasan maka pelaksanaan Pemilu bukanlah suatu metode utama dalam pemilihan pemimpin bangsa. Namun, hanyalah menjadi alternatif dalam mencapai mufakat bilamana musyawarah yang dihadiri tokoh nasional dan perwakilan segenap elemen bangsa telah berhasil mencapai mufakat. Sehingga, energi dan anggaran negara tidak terkuras hanya untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan murah, cepat, dan aman.   

Selanjutnya, dalam sila terakhir, Pancasila menekankan pada aspek keadilan sosial. Hal ini mengisyaratkan bahwa keadilan sosial adalah prasyarat menuju bangsa dan rakyat yang sejahtera, dan kesejahteraan pada gilirannya akan mendorong kemajuan negara. Dengan demikian sila kelima ini mengharapkan adanya kesetaraan dalam memanfaatkan, mengakses, dan menikmati hasil-hasil pembangunan. Sehingga, sila kelima ini pada akhirnya membuahkan suatu kondisi di mana kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan ekonomi menjadi fenomena sosial yang mustahil terjadi. 

Dengan demikian Pancasila yang kita yakini sebagai dasar negara memanglah memiliki kesaktian yang tak terbantahkan. Sayangnya, kesaktian tersebut hanyalah sebatas nilai dan belum terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya pada Peringatan Hari Kesaktian Pancasila sudah saatnya Bangsa Indonesia menyadari mengenai hakikat dan ruh pencipta Kesaktian Pancasila.

Kesaktian Pancasila hanya akan tampak dan memberikan perubahan yang luar biasa pada bangsa ini bilamana segenap elemen bangsa mengembalikan semua perilaku dan sistem nilai kepada nilai-nilai yang termaktub pada Pancasila. Akhirnya, Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2010. Semoga Indonesia ke depan menjadi semakin jaya dan maju.  Sumber

0 komentar:

Follow Me

Blog Archive

Online

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Directory

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku Text Back Links Exchange Free Automatic Link Free Automatic Backlink http://Link-exchange.comxa.com Powered by Mysiterank

  © Web Design By Septiyans   © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008   ©The Javanese   ©Doea Enam

Back to TOP