Join and earn money by advertising in Kumpulblogger.com

Fenomena di Balik Kematian Mendadak Saat Bayi Tidur

Minggu, 23 Januari 2011


Aktivitas bayi yang baru lahir memang lebih banyak diisi dengan tidur karena tidur sangat penting untuk tumbuh kembangnya. Kebanyakan bayi akan tertidur lebih nyenyak dalam posisi tengkurap, namun posisi ini masih jadi perdebatan.

Pendapat yang pro menyebutkan dalam posisi tidur tengkurap bayi akan lebih nyenyak, nyaman, serta gerak pernapasannya lebih baik. Tidur dengan posisi bertumpu pada perut ini juga dianggap membuat bayi serasa dalam dekapan ibunya.
Di lain pihak para ahli mengatakan sebaiknya bayi tidur dalam posisi telentang paling tidak sampai ia berusia 4 bulan. Mengapa? Sebuah penelitian mengungkapkan bayi yang tidur dalam posisi tengkurap lebih sering mengalami SIDS (sudden infant death syndrome) atau sindroma kematian mendadak pada bayi. SIDS sendiri paling banyak dialami bayi berusia 2-4 bulan.

Mencegah terjadinya SIDS merupakan alasan utama dari para ahli agar bayi tidur dalam posisi terlentang atau miring. Sejak American Academy of Pediatrics mengampanyekan tidur telentang untuk bayi, angka SIDS memang turun hingga 50 persen.

Penelitian tahun 2003 yang dimuat dalam Archieves of Pediatrics and Adolescent Medicine juga menemukan manfaat lain dari tidur telentang, yakni menekan risiko infeksi telinga, demam dan gangguan pada hidung.

Sebelumnya tak sedikit terjadi, bayi tewas saat tidur. Terutama dalam posisi tengkurap. Karena tak terduga, tindak pencegahannya pun nyaris mustahil.

Tak bisa dibayangkan bagaimana terpukulnya perasaan orang tua yang baru dikaruniai bayi yang tampak sehat dan normal namun mendadak menemukan bayinya dalam keadaan biru tak bernyawa di dalam boksnya. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi pada bayi yang mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)?

Sebetulnya, bicara masalah kematian pada bayi, jelas dr. Bambang Supriyatno, Sp.A penyebabnya bisa karena tiga hal. Pertama, kematian karena adanya kelainan bawaan semisal bayi lahir dengan kelainan jantung dan paru-paru yang memungkinkan kejadian kematiannya diprediksi. Terlebih bila kelainan tersebut merupakan salah satu faktor risiko. Kedua, kematian karena penyakit yang didapat, semisal radang paru-paru atau pneumonia maupun akibat suatu kecelakaan yang didapat di rumah, di jalan, atau di mana pun.

Sementara kematian berikut yang lebih dikenal dengan istilah SIDS, agak sulit diprediksi. Sebab, kejadian kematian ini bersifat dadakan, hingga tak pernah bisa diperkirakan apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya.

Menurut spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, angka kejadian SIDS di Amerika cukup tinggi, meski tak ada angka pastinya. Sementara di Indonesia, data mengenai berapa banyak kasus kejadiannya malah tak diketahui. Hanya saja di beberapa negara, kejadian SIDS cenderung meningkat. Terutama pada bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap.

Sebetulnya, jelas Bambang, posisi tidur tengkurap bermanfaat untuk mencegah terjadinya aspirasi/tersedak. Yakni, masuknya cairan muntahan ke dalam paru-paru yang bisa membahayakan. Selain itu, baik pula untuk pergerakan otot pernapasannya.

"Tapi posisi tidur ini mesti dicermati bila bayi memiliki kelainan neurologis semisal pergerakan kepalanya susah." Meski tak ada batasan waktu yang baku, orang tua harus tetap mengawasi bila bayinya tidur dengan posisi ini sekalipun bayi punya insting untuk membebaskan diri. Artinya, jika napasnya susah, ia akan bergerak dengan sendirinya.

Sebenarnya, ujar Bambang, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kejadian SIDS. Di antaranya:

Faktor Ibu
Selama masa kehamilan, faktor diri ibu sangat berpengaruh. Ibu yang merokok, minum minuman beralkohol, mengonsumsi obat-obatan secara bebas, berpeluang memperoleh bayi yang pertumbuhannya terganggu. Hal ini bisa menjadi risiko faktor penyebab terjadinya SIDS.

Kelahiran Prematur
Prematuritas juga bisa menjadi risiko terjadinya SIDS karena organ-organ tubuhnya yang belum matang dan sempurna. Demikian juga dengan sistem pernapasannya yang bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasannya. Sementara pada bayi yang tidak dilahirkan prematur, sistem pernapasannya mulai bagus/matang di usia 8 bulanan. Itu sebabnya kasus SIDS jarang dijumpai pada bayi atas usia 6 bulan.

Sulit Napas
Sesudah bayi lahir, ada kejadian yang dinamakan asfiksia. Yakni bayi mengalami kesulitan bernapas. Biasanya akan menampakkan gejala biru, susah bernapas, dan berkurangnya denyut jantung.

Disfungsi Pada Batang Otak
Usia terbanyak kejadian SIDS ditemui pada bayi usia 2-4 bulan. Sedangkan mayoritas atau 95 persen, dijumpai pada bayi di bawah 6 bulan. Penyebabnya, kemungkinan terjadi disfungsi atau gangguan pada batang otak. Gangguan ini mengakibatkan berubahnya pola pernapasan si bayi. Dalam bahasa Inggris istilahnya arousal, yang bisa digambarkan mirip orang yang kekurangan oksigen selagi tidur. Ini membuatnya gelagapan dan terbangun, tapi kemudian bisa tertidur lagi. Nah, pada bayi, tingkat kewaspadaan inilah yang terganggu sementara ia tak mampu mengatasinya. Singkatnya, berawal dari fungsi otak yang terganggu/berkurang tanpa diketahui penyebabnya. Proses arousal-nya pun jadi kurang bagus yang diikuti dengan pola tidur dan kontrol kurang bagus serta pola pernapasannya juga tak baik. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan gangguan/perubahan denyut jantung dan peningkatan suhu tubuh. Akibatnya, paru-parunya jadi kekurangan oksigen lalu menyebabkan gangguan berhenti napas.

Posisi Tidur Tengkurap
Kejadian SIDS akibat posisi tidur tengkurap ternyata sekitar 3 kali lebih besar dibanding posisi terlentang. Ini bisa dimengerti karena pergerakan kepala pada pada bayi usia 2 bulan mestinya sudah kuat. Sedangkan bayi dengan gangguan di otak umumnya tidak kuat mengangkat kepalanya. Akibatnya, posisi tidur tengkurap memperbesar kemungkinan terjadinya SIDS. Belum lagi faktor kasur yang sangat empuk atau lunak, yang menyebabkan kepalanya "terbenam" ke dalam kasur. Akibatnya, bayi kesulitan mengangkat kepalanya mencari udara bebas. Di lain pihak, sebetulnya kalau kondisi si bayi normal-normal saja (dalam arti tak ada dasar gangguan otak), maka posisi tidur tengkurap tak memicu terjadinya SIDS. Sayangnya, ada-tidaknya gangguan atau kelainan pada batang otak bayi baru lahir, tidak mudah segera diketahui. Sementara dari hasil otopsi pada bayi-bayi di luar negeri yang mengalami SIDS, ternyata kejadian ini terutama terjadi pada bayi-bayi yang memiliki kelainan pada batang otak, pembengkakan pada paru-paru, dan perdarahan pada daerah sekitar dada. Semua itu dapat terjadi akibat kondisi asfiksia/kesulitan bernapas akibat hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jangka waktu cukup lama dalam darahnya.

Dialami Ras Tertentu
Soal ras ternyata merupakan salah satu faktor munculnya kejadian SIDS yang banyak terjadi pada kalangan kulit hitam. Namun, tandas Bambang, itu kejadian di luar negeri, sedangkan di Indonesia belum ada penelitiannya.

Kurang Pengawasan
Bisa pula terjadi bayi tertutup selimut dalam keadaan tidur. Tentu saja risiko SIDS tetap terbuka, terlebih bila dibarengi dengan kurangnya pengawasan orang tua. Selama tetap diawasi dengan baik, menyelimuti bayi tak akan jadi masalah. Selain itu, pernah pula dilaporkan bayi mengalami SIDS karena hidung dan mulutnya tertutup payudara si ibu saat menyusui. Kemungkinan ini terjadi bila ibu menyusui bayinya sambil tiduran, tapi kemudian tertidur karena capek. Tertutupnya mulut dan hidung si bayi membuat bayi seperti dibekap.

Bedong Terlalu Kuat
Karena ingin anaknya merasa hangat, orang tua biasanya membedongnya kuat-kuat. Padahal, mestinya orang tua tahu, bayi bernapas menggunakan dada dan perut. Bayangkan, bayi yang dibebat kuat pasti napasnya kembang-kempis alias susah payah. (fn/k2m) www.suaramedia.com

0 komentar:

Follow Me

Online

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Directory

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku Text Back Links Exchange Free Automatic Link Free Automatic Backlink http://Link-exchange.comxa.com Powered by Mysiterank

  © Web Design By Septiyans   © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008   ©The Javanese   ©Doea Enam

Back to TOP